PT. DWI MITRA TEKNINDO

(021) 876-2697
Menu HVAC Engineer
Menu Header

INDUSTRI DAGING

Kontrol kelembaban untuk pengolahan daging/danging unggas/ seafood 

Keamanan pangan mungkin merupakan salah satu isu yang paling penting dalam industri pengolahan Daging, Gaging Unggas, dan Seafood yang dihadapi setiap hari. Keprihatinan terhadap kesehatan masyarakat dalam kasus konsekuensi yang berpotensi merusak akibat makanan yang terkontaminasi telah mendorong asosiasi industri, pakar keselamatan, dan organisasi pengawas untuk membentuk pedoman, bukan hanya untuk penanganan makanan, tetapi juga untuk desain dan proses produksi tanaman.

Pengaruh kelembaban yang tak terkendali

Perbedaan suhu memiliki dampak signifikan pada penumpukan kelembapan di dalam pabrik pengolahan daging/Daging unggas. Makanan yang halus, seperti ikan, sangat peka terhadap panas. Dalam lingkungan yang lembap, mereka menjadi rentan terhadap pertumbuhan bakteri dan degradasi protein, yang pada gilirannya mengurangi nilai gizi dan stabilitas umur simpannya. Masalah semacam ini juga memiliki dampak negatif terhadap tekstur, rasa, dan tingkat kebersihan produk.

Daging dan produk daging seperti sosis juga sangat rentan terhadap pertumbuhan bakteri dan degradasi protein. Hal ini tidak hanya memengaruhi karakteristik tekstur, rasa, dan tingkat kebersihan produk, tetapi juga mengurangi nilai gizi dan stabilitas umur simpannya.

Penyebab kelembaban tak terkendali

Uap air biasanya dilepaskan selama proses penyembelihan dan pengolahan daging. Perbedaan suhu juga turut berperan dalam akumulasi kelembapan di dalam pabrik pengolahan daging/unggas.

Rekomendasi umum

faktor kelembapan relatif (RH) sebesar 50+5% pada suhu 23ºC adalah rekomendasi yang baik untuk mencegah pertumbuhan mikroba di dalam ruang pemrosesan/pengemasan. Kelembapan relatif yang terjaga pada tingkat ini membantu menjaga kondisi lingkungan yang tidak mendukung pertumbuhan mikroba yang tidak diinginkan, yang dapat mengancam keamanan dan kebersihan produk makanan yang sedang diolah atau dikemas. Dengan menjaga faktor kelembapan relatif pada tingkat yang tepat, risiko kontaminasi mikroba dapat diminimalkan.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *